Goenawan Mohamad Komisaris Utama

Goenawan Mohamad dan kawan-kawan mendirikan Majalah Tempo pada 1971 dan menjadi Pemimpin Redaksi (Pimred) - nya. Wartawan dan budayawan kelahiran Batang, Jawa Tengah, tahun 1941, ini menjabat Pimred hingga dua tahun sebelum Tempo dibredel pada 1994. Ketika Tempo terbit kembali pada 1998, Goenawan hanya bersedia ‘mengawal’ Tempo - sebagai orang pertama di majalah berita tersebut, selama setahun saja. Selanjutnya, tampuk kepemimpinan diserahkan ke Bambang Harymurti.

Sejak 1989, wartawan dan budayawan ini -- ia menerima Hamengku Buwono IX Award dari Universitas Gajah Mada tahun 2011 -- menjadi Komisaris Utama PT Tempo Inti Media Tbk sampai sekarang. Ia mewakili PT. Grafiti Pers.

 Kini jabatannya di Majalah Tempo adalah redaktur  senior dan setiap pekan peraih hadiah sastra Profesor Teeuw Award (1992), itu rutin menulis Catatan Pinggir. Goenawan sekarang merawat Komunitas Salihara, sebuah wadah berkesenian yang ada di kawasan Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sejumlah buku bertema sosial budaya serta puisi sudah lahir dari tangan Goenawan Mohamad.



line
Edmund E. Sutisna Komisaris Independen

Edmund E. Sutisna dilahirkan di Semarang, Jawa Tengah, tahun 1946. Ia menduduki posisi sebagai Komisaris Independen PT Tempo Inti Media Tbk sejak 2009 hingga saat ini. “Visi para pendiri dan aspirasi pengelola Tempo saat ini bisa menjadi modal kuat untuk maju,” kata lulusan Master of Business Administration, Syracuse University, Amerika Serikat, ini.

Edmund pernah menduduki beragam jabatan sebelum bergabung di PT. TIM Tbk, terutama dilingkungan PT. Jaya Raya.. Antara lain Vice President Director PT Jaya Obayashi, Direktur PT Mitsubishi Jaya Elevator, Direktur PT Jaya Readymix, Direktur Utama PT Jaya Teknik Indonesia, Vice President Director PT Jaya Konstruksi MP Tbk, serta Direktur PT Pembangunan Jaya.

Selain di dunia usaha, Edmund menggeluti dunia pendidikan. Sejak 2011, ia dipercaya sebagai President di Universitas Pembangunan Jaya, milik PT. Pembangunan Jaya.



line
Leonardi Kusen Komisaris Independen

Leonardi Kusen bukan pribadi yang asing di lingkungan Tempo. Sebelum menjadi Komisaris  pada 2009, ia pernah duduk sebagai Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk (1998–2007) sekaligus Komisaris Utama PT Temprint pada periode yang sama. Di tahun 2007, ia memasuki masa pensiun dan menggeluti bisnis pribadinya, sebuah perusahaan penyedia jasa internet.

Karenanya  Pak Leo –begitu ia biasa disapa – yang lahir tahun 1950 di Magelang, Jawa Tengah,  ini kenal seluk beluk Tempo. Ia berpandangan Tempo termasuk media yang menjaga independensinya di tengah perebutan media oleh konglomerasi dengan berbagai kepentingan. Sarjana teknik Universitas Gadjah Mada yang meraih gelar master of business administration di Syracuse University, New York, Amerika Serikat, ini sebelumnya membina karier di lingkungan PT Pembangunan Jaya. Ia sudah menapaki berbagai jabatan di lingkungan perusahaan besar tersebut sebelum bergabung ke PT. Tempo Inti Media Tbk. 



line
Yohannes Henky Wijaya Komisaris

Sejak tahun 2012, Yohannes Henky Wijaya duduk dalam jajaran Dewan Komisaris. Biasa dipanggil Pak Henky, pria yang dilahirkan di Bekasi, Jawa Barat, pada1956, ini mengaku senang bergabung dengan Tempo Media Group.   Majalah Tempo, menurut Henky adalah salah satu media yang mengawal demokrasi di Indonesia. Ketika media online menjadi kebutuhan masyarakat modern, menurut Henky Tempo telah mempersiapkan dirinnya. Karena itu, lulusan pascasarjana Sekolah Tinggi Manajemen PPM, ini Tempo Media  dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Henky, yang menjadi komisaris mewakili Yayasan Jaya Raya.

Selain berkarir di PT. TIM Tbk, Henky, alumni Institut Teknologi Bandung, sudah membangun karir di grup Jaya Raya. Antara lain, sebagai Vice Director of PT. Jaya Real Property, Vice President Director of PT. Jaya Real Property dan kini sebagai salah satu Direktur di PT. Pembangunan Jaya.



line
Meity Farida Sita D. Komisaris

Meskipun baru b e r g a b u n g kembali, sebagai keluarga besar Tempo, di tahun 2012, M e i t y merupakan sosok akrab bagi waraga Tempo Media Group. Sejak 1985, ia sudah bergabung dengan Majalah Tempo d a n  m e n g u r u s bagian Sumber Daya Manusia hingga Tempo dibredel pemerintah Orde Baru pada 1994. Ketika Tempo terbit kembali 1998, Meity ikut bergabung dan sempat menduduki  hingga kemudian mengundurkan diri pada tahun 2004. Saat itu ia antara lain, menjabat sebagai salah satu direktur di PT. Temprin.

Pada tahun yang sama, Meity melanjutkan studi  pascasarjana di Universitas Indonesia hingga meraih gelar M.Psi. Dua tahun kemudian, pada 2006, dia bergabung di Yayasan Utan Kayu bersama Goenawan Mohamad. Ia ikut menyiapkan pendirian Komunitas Salihara, sebuah komunitas seni, termasuk peluncurannya pada 2008.

Tentu, kembalinya perempuan kelahiran Makassar 1959  di posisi sebagai Komisaris, saat ini membawa semangat baru. Meity mewakili Yayasan 21 Juni.  



line